Pada bab lalu telah dibahas tiga ayat pertama dari surat paling agung dalam al-Quran ini. Sesuai hadits pembagian al-Fatihah antara Allah dan hambaNya, ketiganya adalah ayat untuk Allah. Ayat yang berikutnya dibagi dua atara Allah dan hambanya, dan selebihnya untuk hamba-hamba Allah.
Pribadi dan kedudukan Syaikh al-Albani tidaklah asing bagi umat Islam, terutama di kalangan penuntut ilmu agama. Kontribusi beliau dalam kebangkitan ilmiah umat sangat terasa. Dakwah beliau kepada sunnah sangat mendunia. Karya-karya beliau juga telah menghasilkan buahnya yang ranum. Namun mujaddid yang satu ini –sebagaimana pembawa kebenaran yang lain- tidak selamat dari celaan. Di antara celaan yang dialamatkan kepada beliau adalah tuduhan melemahkan hadits-hadits Shahihain dan menyelisihi para pendahulu dalam kaidah-kaidah disiplin ilmu hadits. Virus celaan ini juga telah mendunia dan bumi pertiwi tidak terlepas darinya.
Bagi sebagian kalangan yang tidak memahami duduk permasalahannya, tuduhan ini adalah kabair yang cukup untuk menjatuhkan beliau, dan yang lebih penting menjatuhkan dakwah yang beliau usung. Tulisan ini mencoba menjelaskan dengan singkat duduk perkara masalah ini secara ilmiah. Wallahul Muwaffiq.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih nan Penyayang. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.
"Niscaya aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada hari kiyamat dengan kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah[2] yang putih, kemudian Allah 'azza wa jalla menjadikannya debu yang beterbangan." Ada[3] yang berkata: "Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu." Nabi rberkata: "Ketahuilah bahwa mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya." [4]
Alhamdulillah, segala syukur kita panjatkan pada Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wata'ala. Dialah yang telah memberikan keimanan pada setiap hamba Nya yang dikehendaki, dan mentakdirkan kekufuran pada sebagian manusia, sesungguhnya dibalik semua takdirnya terdapat banyak hikmah yang besar.
Disini, identitas kita sebagai seorang muslimah masih terlekat erat. Keluar rumah dengan aurat yang tertutup, terhindar dari bercampur baurnya laki-laki dan perempuan, dan sebagainya. Rasa aman selalu menyertai kita karena wanita dalam lingkungan islam sangat dihormati. Oleh karena itu, sepatutnya kita mengucap syukur karena sampai saat ini kita masih berada diatas fitrah islam, fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada setiap anak manusia sejak ditiupkannya roh pada janin yg ada di dalam kandungan ibu.
Pada bab lalu telah dibahas keutamaan Surat al-Fatihah dan pentingnya memahami kandungan surat ini bagi seorang muslim. Juga beberapa hal penting mengenai isti'adzah dan basmalah. Pada kesempatan kali ini akan dibahas kandungan setiap ayat dari surat paling agung ini. Semoga memberikan buah yang manis dalam kehidupan kita didunia dan akhirat. Amin.